Surat dari Temanggung: “Mulai Aja Dulu“ (Pelajaran Iman dari Pdt Hendra Setia Prasaja)

Surat dari Temanggung: “Mulai Aja Dulu“ (Pelajaran Iman dari Pdt Hendra Setia Prasaja)

Surat dari Temanggung: “Mulai Aja Dulu“ (Pelajaran Iman dari Pdt Hendra Setia Prasaja) 1200 675 Rhesa Lorca

Pdt Hendra Setia Prasaja baru saja mendapat titel baru sebagai Pendeta Emeritus dalam ibadah Emeritasi yang digelar pada Minggu 25 Januari 2026 di Gereja Toraja, Galaxy, Kota Bekasi.

Ibadah yang dilayani oleh Pdt Suhud Setyo Wardono, Sekretaris Umum BPSM GKI ini berjalan dengan khidmat dan khusyuk dari awal, pertengahan hingga akhir ibadah.

Baca Juga: Pdt Hendra Setia Prasaja > Liputan Emiritasi GKI

Dan jauh hari sebelum ibadah emeritasi Pdt Hendra Setia Prasaja, tim GKICamar.or.id mendapatkan sebuah testimoni dari salah satu jemaatnya di GKI Cianjur yang kini berada di Temanggung

Sebuah testimoni dari Penatua Isac Abimanyu yang cukup mendalam dan sangat erat dengan keberadaan pelayanan dari Pdt Emeritus Hendra Setia Prasaja, kiranya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, selamat membaca..

Saya pertama kali mengenal Pdt. Hendra Setia Prasaja sekitar tahun 2007, ketika saya masuk SMA dan mulai aktif di Gereja Kristen Indonesia. Saat itu beliau menjadi pembimbing katekisasi. Dari sanalah relasi kami dimulai, bukan sebagai hubungan yang formal dan berjarak, tetapi sebagai perjumpaan yang hangat antara seorang pendeta dan orang muda yang sedang belajar mengenal iman, gereja, dan hidup.

Sejak awal, saya melihat Pdt. Hendra sebagai sosok yang memberi ruang. Ruang untuk bertanya, untuk mencoba, dan untuk bertumbuh. Kesan ini semakin kuat ketika saya terlibat dalam pelayanan orang muda lintas gereja melalui Christian Youth Cianjur. Di kota kecil seperti Cianjur, yang saat itu hanya memiliki sekitar tujuh hingga sembilan gereja, orang-orang muda berusaha membangun kerja sama lintas denominasi melalui berbagai kegiatan Natal, Paskah, dan aksi sosial.

Pdt. Hendra, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Gereja (BKSAG), memberikan dukungan yang sangat nyata. Saya masih mengingat dengan jelas ketika Christian Youth Cianjur memiliki utang sekitar 2,5 juta rupiah untuk kegiatan Natal. Dalam rapat BKSAG, Pdt. Hendra langsung meminta bendahara untuk melunasi utang tersebut. Tindakan itu sederhana, tetapi bagi kami, orang-orang muda, itu adalah pesan yang kuat, bahwa pelayanan kami dipercaya dan dianggap penting.

Kepercayaan itu juga saya rasakan dalam hal-hal kecil. Pernah suatu kali saya memiliki acara di sekolah dan perlu meminjam gitar listrik serta ampli gereja. Tidak ada proses panjang, tidak ada kecurigaan berlebihan. Semuanya diizinkan dengan cepat. Dari situ saya belajar bahwa gereja, melalui kehadiran pendetanya, dapat menjadi tempat yang mendukung kehidupan nyata orang muda, bukan institusi yang menakutkan.

Setelah lulus SMA, saya menjalani empat tahun hidup dan bekerja di Papua. Jarak yang jauh tidak membuat relasi kami terputus. Pdt. Hendra tetap menjaga kontak. Salah satu momen yang sangat membekas bagi saya adalah ketika beliau mengirimkan voicenote berisi lagu selamat ulang tahun. Hal kecil itu terasa sangat personal dan meneguhkan, bahwa pendampingan pastoral tidak berhenti oleh jarak atau kesibukan.

Pada tahun 2016, saya berada dalam masa pergumulan besar, memilih antara melanjutkan pekerjaan atau berhenti dan kuliah teologi. Di masa galau itu, Pdt. Hendra adalah salah satu figur yang menguatkan dan meyakinkan saya untuk melangkah ke pendidikan teologi.

Pendampingan itu berlanjut secara nyata ketika saya mulai kuliah. Di akhir semester pertama, Pdt. Hendra menelepon saya dan menanyakan kabar kuliah. Saya menceritakan bahwa perkuliahan berjalan lancar, tetapi masih ada kendala, yaitu sisa uang pangkal yang belum lunas. Tanpa banyak kata, melalui bendahara GKI Cianjur, sisa uang pangkal tersebut dilunasi. Bagi saya, hal ini menjadi wujud nyata dari gereja yang hadir menopang anggota-anggotanya.

Pada tahun 2017, sambil menunggu masa kuliah dimulai pada bulan Agustus, saya kembali aktif di GKI Cianjur dan langsung dipercaya menjadi Ketua Panitia Paskah. Pada masa itu, jemaat memiliki mimpi untuk menyediakan ambulans gratis bagi mereka yang membutuhkan. Jujur, mimpi itu terasa sangat besar. Dari mana dana ratusan juta akan datang, sementara untuk mengumpulkan belasan juta saja terasa sulit? Dalam benak saya, angka 30 juta rupiah sudah terasa optimis.

Namun, Pdt. Hendra terus menanamkan satu kalimat yang sederhana tetapi mengakar dalam diri saya, “Mulai aja dulu. Kalau buat Tuhan, pasti ada jalan.” Mimpi ambulans itu bahkan dimulai dari ulang tahun Pdt. Hendra, yang beliau dedikasikan untuk penggalangan dana.

Dan Tuhan benar-benar memberi kejutan. Dalam masa Rabu Abu sampai Paskah, jemaat berhasil mengumpulkan sekitar 350 juta rupiah untuk membeli satu ambulans baru, dan kemudian disusul dengan ambulans kedua. Dari pengalaman itu saya belajar untuk tidak membatasi kuasa Tuhan dengan perhitungan manusia.

Selain dalam pelayanan internal gereja, Pdt. Hendra juga membentuk saya dalam nilai-nilai relasi lintas iman. Saat SMA, beliau membawa saya mengikuti live-in selama tiga hari di sebuah pesantren. Di tengah konteks Cianjur yang dikenal memiliki dinamika relasi antaragama yang tidak selalu mudah, pengalaman itu membuka cakrawala saya tentang toleransi, dialog, dan niat baik. Beliau juga pernah berbagi kisah tentang rumah belajar di Ciranjang yang sempat mengalami penolakan di awal, tetapi akhirnya dapat berdiri dan berjalan. Pesannya jelas, selama maksud kita baik, Tuhan akan membukakan jalan.

Hingga hari ini, Pdt. Hendra terus mendampingi perjalanan hidup dan pelayanan saya. Saat kuliah, setelah lulus, dalam proses kependetaan, bahkan ketika menghadapi masa-masa tersulit, beliau selalu menyediakan waktu. Untuk mendengar, menguatkan, menghibur, dan memberi arahan. Pendampingan yang setia inilah yang bagi saya menjadi warisan pelayanan beliau yang paling berharga.

Saya melihat Pdt. Hendra Setia Prasaja bukan sebagai sosok yang selesai, melainkan sebagai pendeta yang telah menanamkan nilai-nilai yang terus hidup dan bekerja. Dari beliau, saya belajar bahwa pelayanan bukan terutama soal posisi, melainkan soal kehadiran. Bukan tentang memulai dari kelengkapan, tetapi tentang keberanian untuk melangkah dan mempercayakan proses kepada Tuhan.

Pesan “mulai aja dulu” itu terus saya bawa hingga hari ini, sebagai pengingat bahwa iman sering kali bertumbuh justru ketika kita setia melangkah dalam keterbatasan. Kiranya masa emeritus menjadi waktu yang penuh damai dan sukacita, dan kiranya teladan hidup serta pelayanan Pdt. Hendra terus menginspirasi banyak orang, sebagaimana telah menginspirasi saya sepanjang perjalanan ini. ***

Leave a Reply

Back to top