Luka Batin Menurut Alkitab: Deteksi Dini dan Cara Menyembuhkan

Luka Batin Menurut Alkitab: Deteksi Dini dan Cara Menyembuhkan

Luka Batin Menurut Alkitab: Deteksi Dini dan Cara Menyembuhkan 1200 675 Tabernakel

Pada umumnya kita lebih perhatian pada luka fisik daripada luka batin. Hal ini mungkin karena kurang paham dengan pengertian luka batin (mental), apa dampak dalam kehidupan? Apa yang dapat menolong luka itu agar sembuh?
Bagaimana luka batin dapat dibandingkan dengan luka fisik?

Mengapa luka batin menjadi lebih parah? Karena pemikiran yang salah bahwa luka batin akan sembuh dengan berlalunya waktu, sehingga kita mendiamkan dengan harapan dapat membuat kita lupa dan tidak terluka.

Luka batin adalah perasaan terluka karena trauma sebagai bagian dari pengalaman 10 tahun pertama dalam kehidupan seseorang termasuk pengalaman tidak diinginkan di dalam kandungan, dukacita yang melebihi sukacita, terabaikannya kebutuhan emosional yaitu kebutuhan untuk dikasihi – dilindungi – dipercaya, perasaan tidak berdaya, rasa marah yang bertahan dalam ingatan.

Apa itu Luka Batin: Perbandingan Luka Fisik dan Luka Batin

Luka Fisik Luka Batin
Keliatan Tidak kelihatan, tetapi nampak pada tingkah-laku orang itu
Terasa menyakitkan, perlu dirawat dengan hati-hati Terasa menyakitkan, perlu dirawat dengan hati-hati
Kalau diabaikan, besar kemungkinan bertambah parah Kalau diabaikan, besar kemungkinan bertambah parah
Perlu dibersihkan untuk mengeluarkan benda asing atau kotoran Rasa sakit harus dinyatakan dan setiap dosa harus diakui
Kalau luka di permukaan kulit telah sembuh padahal di dalam masih ada infeksi, bisa  menyebabkan orang itu merasa sakit sekali Kalau seorang mengira bahwa luka batin mereka telah sembuh padahal sebenarnya belum, akan menimbulkan masalah yang lebih besar bagi orang itu
Hanya Tuhan yang dapat menyembuhkan, namun Ia juga memakai orang lain dan obat untuk mencapai tujuan itu Hanya Tuhan yang dapat menyembuhkan, dan Ia sering memakai orang lain dan pengertian tentang bagaimana penyembuhan batin dapat terjadi
Kalau tidak dirawat akan mengundang lalat Kalau tidak dirawat akan mengundang dosa
Perlu waktu untuk sembuh Perlu waktu untuk sembuh
Luka yang sudah sembuh dapat menimbulkan bekas Luka batin yang sudah sembuh juga dapat meninggalkan bekas. Orang dapat disembuhkan namun mereka tidak bisa sama persis dengan keadaan sebelumnya.

Bagaimana tingkah laku yang khas dari orang-orang yang terluka hatinya?

Beberapa orang dengan luka batin selalu tegang. Setiap suara keras membuat mereka kaget. Mereka ketakutan terus menerus, dan seolah mengira akan terjadi sesuatu yang buruk atas mereka setiap saat.

Sebagian mereka begitu tegang sehingga tidak dapat tidur, atau mereka terbangun pagi-pagi sekali. Kadang-kadang mereka gemetaran atau berdebar jantungnya. Atau mungkin mereka kesulitan bernafas, pusing, atau seperti mau pingsan.

Sebagian orang dengan hati terluka, keliatan sangat marah, benci kepada orang lain dan bisa bersikap keras.

Beberapa orang dengan luka batin merasa sangat sedih, mengalami depresi dan mungkin juga banyak menangis.

Beberapa orang dengan luka batin menjauhi segala sesuatu yang mengingatkan mereka kepada pengalaman trauma yang pernah mereka alami.

Beberapa orang dengan luka batin, kehilangan kepekaan mereka. Mereka tidak lagi peduli apa yang terjadi dengan dirinya.

Mereka menjadi orang yang pesimis (tidak punya gairah).

Mengingat-ingat pengalaman berulang kali sehingga menyulitkan mereka berkonsentrasi kepada tugas tertentu.

Beberapa orang dengan luka batin mencoba menghilangkan sakit hati mereka dengan cara minum obat-obatan atau minuman keras. Sebagian lainnya cenderung makan terlalu banyak, atau bekerja terlalu keras untuk menekan rasa sakit di hatinya.

Bagaimana Cara Menyembuhkan Luka di Hati?

  1. Kenali dan pengakuan bahwa ada luka dihati saya.
    Mengakui perasaan dan pikiran yang ada yaitu bahwa saya mengalami malu, kesepian, takut, tidak ada yang mengerti, mudah tersinggung, rendah diri, tidak ada harapan, mudah marah, tidak berharga, tidak punya masa depan, tidak layak hidup, dsb.
  2. Mempertanyakan : salah siapa?
    Membangun sikap yang mempertanyakan mengapa ini semua terjadi pada saya.
    Adakah sikap menyalahkan diri sendiri atau orang lain, bahkan Tuhan, yang dianggap ikut bertanggung jawab.
  3. Ada kekuatan dari dalam diri untuk bangkit.
    Membangkitkan rasa bersyukur karena pengalaman ini memacu saya untuk bangkit.
  4. Datang pada Tuhan.
    Berdoa dan mengakui bahwa Tuhan yang menciptakan, menganggap saya milikNya yang berharga, menyembuhkan, memulihkan, memberikan pengharapan.
    Mengakui bahwa Tuhan memiliki rancangan indah untuk hidup saya, dan Ia sangat peduli untuk membuat rancangan itu terlaksana.
  5. Mengampuni.
    Mengampuni siapapun yang membuat pengalaman trauma terjadi pada dirinya, orangtua, orang lain.Menyalahkan diri sendiri dan orang lain tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi, malah menambah kepahitan.
  6. Mengekspresikan apa yang dirasakan.
    Mengekspresikan perasaan dan pikiran negatif melalui surat, menceritakan ulang pada orang lain, menggambar, bernyanyi, menulis di buku harian, membuat puisi. Gunakan berbagai media, verbal, gambar, ide, musik.
  7. Berhubungan makin akrab dengan Tuhan.
    Masuk dalam pengenalan akan Tuhan, sehingga kita dimampukan untuk melihat lebih jelas apa yang Tuhan rencanakan untuk kita dan bagaimana Ia mewajudkannya.

Mari sedini mungkin mengenali luka di hati kita dan mengakuinya dan datang pada Tuhan karena Alkitab mengatakan bahwa Yesus bukan saja memikul beban dosa kita melainkan juga menanggung rasa sakit kita.

Yesaya 53:3-4
“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang bisa menderita kesakitan….Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.”

Sumber Artikel Psikologi dari Buletin Tabernakel GKI Camar dengan judul “Deteksi Dini & Penanganan Luka Batin” dan ditulis oleh

Gerna Situmeang MA Counseling, CLC
(Konselor Keluarga & Anak / Remaja | HP: 0813 865 82440)

Share
Tentang Penulis

Tabernakel

Kumpulan Tulisan dan Artikel dari buletin Tabernakel GKI Camar sebagai media iman untuk bertumbuh dan informasi kepada jemaat kristen dan khususnya jemaat GKI Camar.

Leave a Reply

Back to top