Memulai Masa Prapaskah, GKI Camar Gelar Ibadah Rabu Abu

Memulai Masa Prapaskah, GKI Camar Gelar Ibadah Rabu Abu

Memulai Masa Prapaskah, GKI Camar Gelar Ibadah Rabu Abu 1200 628 Rhesa Lorca

Memasuki masa ParaPaskah 2026, GKI Camar Bekasi gelar ibadah Rabu Abu yang digelar pada Rabu 18 Februari 2026.

Ibadah Rabu Abu bertempat di ruang ibadah utama GKI Camar Bekasi pada pukul 19.30 WIB.

Ibadah Rabu Abu sendiri dilayani oleh Pdt Dr Charliedius R Saragih, M.M serta sdri Claudia AMT, S.Si Teol dengan mengambil tema Melepas Kemunafikan.

Ayat bacaan Alkitab yang dikutip dalam ibadah Rabu Abu ini terambil dari Yoel 2 ayat 1 hingga 2 dan dilanjutkan ayat 12 hingga 17.

Kemudian injil Mazmur 51 ayat 1 hingga 17, injil 2 Korintus 5 ayat 20b dan ayat 6 hingga 10 serta Matius 6 ayat 1 hingga 6 dan ayat 16 hingga 21.

Acara dibuka dengan pujian Agunglah Kasih Allahku yang dinyanyikan oleh seluruh jemaat bersamaan dengan prosesi Pendeta masuk dan naik ke nimbar.

Setelah itu votum dari Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M  yang dilanjutkan kata pembuka oleh liturgos dan jemaat menyanyikan pujian Kuingin Berperangai.

Dilanjutkan dengan pembacaan Alkitab pertama yang terambil dari Yoel 2 ayat 1 hingga 2 yang dilanjutkan ayat 12 hingga 17 yang dibacakan oleh Penatua Lianawati

Kemudian antar bacaan yang di daraskan oleh Penatuan Bimo yang terambil dari Mazmur 51 ayat 1 hingga 17

Setelah antar bacaan selesai dilanjutkan dengan pembacaan Alkitab kedua yang terambil dari injil 2 Korintus 5 ayat 20b yang dilanjutkan ayat 6 hingga 10 yang dibacakan Penatua Novel Simanullang.

Dan bacaan Alkitab terakhir dimana para jemaat berdiri dengan membaca injil Matius 6 ayat 1 hingga 6 yang dilanjutkan ayat 16 hingga 21 di narasikan oleh Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M.

Usai  pembacaan Alkitab, para jemaat menyanyikan Hosana setelah pendeta menutupnya dengan kalimat

Demikian Injil Tuhan Yesus Kristus, Berbahagialah mereka yang mendengarkan firmanNya dan memelihara firman itu dalam hidupnya, Hosana..

Dalam khotbahnya Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M mengatakan seorang remaja di Amerika Serikat, Ryan Rice dikenal sebagai anak muda yang bertumbuh di keluarga Kristen, ayahnya adalah hamba Tuhan, sejak kecil Ryan rajin ke gereja, tahu Alkitab, dan dia aktif dalam kegiatan rohani dan dikenal sebagai anak baik.

Diluar tampak rohani, namun didalamnya hidupnya berbeda jauh, dan disinilah di dalam kesaksian memberikan judul topeng kehidupan, saat masuk remaja Ryan hidup dalam dua dunia.

Ketika di gereja dia angkat tangan saat pujian, dia bicara tentang hal hal rohani dan dia menampakan kekudusan, namun di sisi lain di luar gereja dia seringkali hadir dalam pesta pesta anak muda, bergaul dengan alkohol, dari mencoba sampai ketergantungan narkoba,  hidup dalam pergaulan bebas.

Dan ia berkata bahwa dia menjadi aktor rohani di pergaulannya, dia menyadari bahwa ia tahu cara terlihat dekat dengan Tuhan tapi hatinya jauh.

Dia mengaku bahwa aku tidak mencintai Tuhan, aku hanya mencintai citra diri sebagai anak rohani, dan inilah kemunafikan yang sering kali sangat nyata di antara anak anak muda yang dimana ia bergaul pada saat itu rohani di depan orang rusak saat sendirian.

Dia mengalami titik hancur, hidupnya makin gelap dia kecanduan narkoba yang berat, relasi dengan keluarganya rusak, jiwa mengalami kekosongan dan suatu hari dalam kehidupan yang dia jalani dia mengalami sakaw dan putus asa.

Dia hampir kehilangan arah hidupnya, di titik itulah dia sadar, semua topengnya tidak menyelamatkan, dia tetap hancur di dalam, di sebuah perjumpaan yang mengubah kehidupannya.

Dalam sebuah kebaktian ibadah sederhana dia mendengar sebuah khotbah mengenai kasih karunia dan pertobatan sejati, bukan tentang tampang baru tapi tentang hati hancur, malam itu ia menangis.

Bukan karena ketahuan, tetapi hatinnya remuk dan dia berdoa di dalam kejujuran kepada Tuhan, dia mengakui dosanya, dia mengakui hidup gandanya dan meminta Tuhan untu memulihkan.

Dan untuk pertama kalinya, hari ini dia tidak memakai topeng, dia mengalami perubahan hidup baru, dia mengalami pertobatan, dia meninggalkan narkoba dipulihkan relasinya bahkan dia dipakai untuk melayani anak muda, ia dikenal sebagai penginjil dan pembicara yang menjangakau ribuan anak remaja yang hidup dalam kemunafikan rohani sama seperti dirinya dahulu.

Ia sering berkata kepada anak anak muda, Tuhan yang memanggilmu untuk kelihatan kudus tapi Tuhan memanggilmu untuk hidup kudus.

Kisah Ryan ini menginspirasi untuk kita sebagai anak anak Tuhan, banyak anak anak Tuhan tahu lagu rohani, hapal dengan ayat Alkitab, bahkan aktif dalam pelayanan, namun bergumul secara diam diam dengan dosa tersebut, dengan berbagai kecanduan, dengan kepahitan, kehidupan ganda, mereka takut jujur karena takut dihakimi dan akhirnya mereka memilih untuk memakai topeng.

Rabu Abu adalah undangan bagi kita sehingga Tuhan bisa berkata didalam diri kita masing masing untuk apa yang bisa kita lakukan, Tuhan tidak berkata rapikan citra tapi Tuhan mengatakan koyakkan hatimu.

Melepas kemunafikan ini menjadi sebuah refleksi bagi kita sama sama bahwa Rabu Abu saat kita membuka topeng.

Apa yang terjadi, Rabu Abu menandai awal masa pra paskah, masa pertobatan, masa kita memiliki banyak waktu merenung, dan masa dimana kita mengingat kepada Tuhan, itulah yang harusnya terjadi dalam Rabu Abu.

Kita bisa memahami bagaimana tanda abu di dahi mengingatkan dua hal, kita fana, engkau debu dan akan kembali menjadi debu, kita berdosa yang membutuhkan anugerah.

Namun persoalannya bukan sekedar dosa yang kelihatan, kalau dosa yang kelihatan setiap orang bisa melihatnya oh dia mencuri, oh dia berbohong, dia selingkuh kelihatan, yang menjadi persoalan adalah kemunafikan yang tersembunyi seperti kisah Ryan Rice.

Mungkin tidak ada satupun manusia yang tahu bahkan pasangan atau keluarga kita pun tidak tahu, ini pun menjadi persoalan kita sampai sedetail dan serapi apa kita menyimpan itu semua.

Rabu Abu mengajak kita melepas topeng bukan mempercantik topeng, dan inilah menjadi bagian kita untuk perenungan sejauh mana jatidiri kita sebagai anak anak Tuhan benar benar mengalami sebuah kehidupan yang diubahkan.

Pertobatan itu bukan hanya terjadi sebuah momentum namun setiap karya adalah adalah momentum untuk bertobat, kadang kita mengatakan oh saya bertobat di umur 20 tapi dalam perjalanan apakah dia menghidupi pertobatannya,  apakah setiap hari ada perubahan demi perubahan yang muncul.

Pertobatan yang bukan pura pura itu yang diinginkan Tuhan, seperti yang dikatakan Yoel dalam Yoel 2 ayat 12 sampai 13 mengatakan Koyakkanlah Hatimu dan Jangan Pakaianmu.

Kenapa ? dalam tradisi pada saat itu banyak orang yang mengalami pertobatan, mengenakan kain ungu duduk di atas batu, meratap, menangis orang lain tahu dia bertobat.

Di jaman Yoel, orang bertobat dengan mengoyakkan pakaian tanda lahiriyah mengalami duka cita, entah mengalami kehilangan, keberdosaan itu sebuah simbol yang muncul.

Tapi Tuhan menegur, jangan hanya simbol, jangan hanya ritual, jangan hanya penampilan yang Tuhan mau adalah hati yang koyak, jiwa yang menyesal, pertobatan yang suci.

Kalau orang tua melihat anaknya melakukan kesalahan, memaafkan dengan suatu perjanjian tidak diulangi lagi, namun anaknya bisa melakukan lagi sekalipun tahu ada perjanjian, kalau dia pegang perjanjian tentunya dia tidak mengulang

Pertobatan yang sungguh itu bukan sekedar tampak untuk dilihat oleh orang namun sungguh sungguh berdampak dalam dirinya dan dalam kesadaran menikmati hidup dalam pertobatan.

Hari ini orang bisa menangis dalam ibadah, tapi tidak berubah dia bisa Praise and Worship menangis dalam ibadah, pulang air mata sudah habis namun bisa kembali.

Hari ini orang bisa aktif pelayanan tapi hidupnya kotor, terlihat dia ramah, terlihat dia bijaksana tapi ternyata hidupnya kotor.

Tapi ini orang bisa bicara rohani tapi relasinya rusak, itu pertobatan yang masih memakai topeng, kita sering menunjukkan itu supaya dilihat orang.

Bagian dari tema dan bacaan kita bisa belajar bahwa hatinya yang remuk lebih berharga daripada sekedar ritual itulah yang dialami Daud, Daud berharap korban sembelihan kepada Tuhan Allah ialah jiwa yang hancur.

Disini kita belajar Daud tidak manufik dihadapan Tuhan, dia tidak menyembunyikan di dalam segala hal yang merusak ataupun yang rusak dalam dirinya tidak berkata aku Raja, ia tidak berkata aku punya jabatan,dan iya berkata aku tetap melayani, namun dia berkata kasihanilah aku, ya Allah.

Kasihanilah dia, status dia sebagai raja dan status punya jabatan sekalipun dia mengejarkan yang apa Tuhan perintahkan tapi dia menyadari bagaimana hancurnya dirinya di hadapan Tuhan dan dia hanya memohon belas kasihan.

Dari sini kata Pdt Dr Charliedus R Saragih, M,M. kita bisa belajar ciri pertobatan sejati yang pertama, berani mengaku dosa bukan menyalahkan, bukan menyalakan keadaan, bukan menyalahkan pihak lain, bukan mencari cari kesalahan diluar dirinya tapi berani untuk mengakui.

Yang kedua, hancur hati bukan membela diri, orang itu kan karena keadaan begitu, karena semua teman teman melakukan itu, pembelaan

Yang ketiga, minta diperbaharui bukan sekedar diampuni, kalau bicara ampun  yang saya sering katakan, orang tua berhadapan dengan anak, anak seribu kali salah tetap diampuni oleh orang tua tapi bukan pengampunan itu menjadi persoalan yang menjadi persoalan pasca pengampunan terjadilah perubahan, orang tua itu lihat anaknya terus akan berubah apa tidak, atau dilihat begitu saja bicara pengampunan orang tua pasti dia punya belas kasihan luar biasa.

Artinya apa hari ini kita belajar bahwa Tuhan tidak mencari kesempurnaan tapi yang Tuhan cari dan Tuhan inginkan adalah mencari kejujuran hati.

Hati yang mau diperbaharui, hati yang mau hidup dalam pertobatan, dari bagian surat Paulus kita belajar adalah waktu sekarang adalah waktu untuk terbaik.

Paulus berkata dalam injil 2 Korintus 5 ayat 20b dan dilanjutkan dengan ayat 6 ayat 2

“Berilah dirimu didamaikan dengan Allah… sekaranglah waktu perkenanan itu,”

Kenapa itu menjadi sesuatu yang penting, ini persoalannya kita sering menunda pertobatan dengan berbagai alasan seperti nanti kalau sudah tua, kata orang makin tua makin jadi, tapi ternyata siapa yang tahu kita hidup sampai tua kan tidak ada yang tahu atau yang bisa garansi.

Atau nanti kalau sudah mapan, tapi kalau sampai dipanggil Tuhan belum mapan gimana, nanti kalau sudah siap, kapan  kata siap itu akan muncul dan terdengar.

Namun firman Tuhan berkata bukan nanti tapi sekarang, bukan besok sekarang kenapa ini sesuatu yang penting, karena kemunafikan paling berbahaya adalah tahu kebenaran tapi tidak berubah.

Itu yang akan kita bilang, kita tahu tentang firman Tuhan tapi tidak melakukan itu dosa, itulah kenapa anak anak Tuhan tidak mau baca firman Tuhan kenapa karena dia tahu tidak melakukan dosa, lebih tidak tahu dan tidak melakukan, aman.

Kalau kita tahu kebenaran tapi tidak berbuat menjadi sesuatu yang percuma, pelayanan bisa berjalan, ibadah bisa rutin tapi hati menjauh, saya pernah ungkapkan semoga ingat, banyak anak anak Tuhan hadir dalam ibadah namun  dia tidak sedang beribadah, banyak orang orang Kristen sebenarnya tidak ibadah namun hadir dalam ibadah.

Ibadah yang benar benar dilakukan itu akan pasti membawa perubahan, apa yang ditulis injil Matius, Yesus menelanjangi kemunafikan rohani seperti pada ayat Matius 6, ayat 1 sampai 6 dilanjutkan ayat 16 hingga 21.

Dimana Yesus menyoroti 3 praktek rohani yang disalahkan saat itu, memberi dikritik, memberilah tapi motivasi ini menjadi pujian, memberi jangan supaya dipuji orang.

Berdoa jangan seperti orang munafik, berkuasa jangan muram mukanya, nah hati hati saudara, kalau anda puasa ndak usah kasih tahu semua orang, ndak usah update status, jangan lemesin badan.

Jangan dibuat kita seolah olah menderita, tertekan, berbeban berat dengan berpuasa atau melakukan hal hal demikian.

Artinya kita belajar masalahnya bukan memberi, berdoa dan berpuasanya tapi masalahnya pada motivasi, apa yang menjadi dorongan itu.

Kemunafikan rohani terjadi saat ibadah jadi panggung, hati hati saudara yang sering ungkapkan bedanya panggung dunia dan panggung gereja, panggung dunia saudara dimuliakan dan standing apllaus dari orang lain.

Tapi kalau panggung gereja, Tuhan dimuliakan dan anda standing applaus untuk Tuhan, bukan untuk orang yang ada di altar, jangan jadikan ibadah altar Tuhan sebagai panggung, karena justru itu membuat kita bertumbuh.

Doa menjadi pertunjukan, karena doa bapak ibu keren, kata kata puitis dan segalanya maka langsung berdoa, kalau ada ibu ibu yang doanya agak blepotan suruhnya dia doa makan.

Doa itu bukan pertunjukan, puasa jadi pencitraan, karena Yesus berkata, Bapamu melihat yang tersembunyi akan membalasnya.

Bapak ibu saudara saudara yang terkasih di dalam Tuhan, oleh karena itu bagaimana kita melepas kemunafikan

Yang pertama, datang kepada Tuhan dengan kejujuran, kejujuran hati itu yang lebih mulia dihadapan Tuhan daripada kita mencoba untuk menutup tutupi dihadapan Tuhan.

Kedua, izinkan hati dikoyakkan, artinya tetap hancurnya saya ketika menjalani hidup sebagai anak Tuhan, dimana saya memohon meminta Tuhan yang baik baik saja yang saya selama ini datang kepada Tuhan ketika saya ada maunya, namun saya tidak bertumbuh dan tidak semakin dewasa.

Ketiga, membangun relasi yang tersembunyi, artinya apa ? masuk ke kamar, berdoalah kepada Bapamu yang ada di sorga, karena tidak ada gangguan, tidak ada akan ada sesuatu yang membuat saudara saudara tergoyahkan untuk setia berdoa.

Kadang kadang kita berdoa di depan orang dan disanjung orang karena kalau dia berdoa pasti semua terkabul dan sebagainya, justru doa itu harus membangun relasi secara privat.

Keempat, fokus pada hati, bukan citra diri, ketika hati kita melayani dan orang lain tidak terlihat, ketika ada membersihkan tumpahan air di bagian belakang dekat ruang mulmed, orang lain ndak melihat, karena tidak ada bagian cctv,

Lakukanlah dan saudara tidak membutuhkan pengakuan dari orang lain, saya melakukan karena cinta rumah Tuhan, karena cinta dengan gereja.

Kelima, kembali kepada pada kasih karunia, bahwa hidup ini bukanlah menunjukkan betapa hebatnya saya melawati hari demi hari, tahun demi tahun, pergumulan demi pergumulan dari level yang saya bukan siapa siapa sehingga saya menjadi seseorang saat ini.

Kembali lagi mengingat bahwa orang yang hidup dalam pertobatan, dia akan selalu lebih mendasarkan bahwa hidup adalah kasih Allah, bukan kemampuan dan kehebatannya.

Oleh karena itu, saudara saudara kalau hari ini pun kita memaknai Rabu Abu dengan menorehkan abu di dahi, mari boleh memaknai beberapa hal yang boleh saya bagikan kepada saudara

Abu berkata, kesombonganmu akan jadi debu, topengmu akan menjadi debu dan kemunafikanmu akan menjadi debu..

Yang tersisa hanyalah, kasih karunia Tuhan, kesempatan untuk Hati yang bertobat, hidup yang diperbaharui,

Abu bukan tanda keputusasaan, diingatkan bahwa betul kita adalah debu dan kembali menjadi debu, namun itu bukan semata mata tentang bagian kelahiran dan kematian.

Tapi justru Abu adalah tanda awal pemulihan, ketika diingatkan disitu, kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu, kita disadarkan waktu kita terbatas, kesempatan dari Tuhan terbatas, sehingga kita bisa belajar saudara ku, Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna tapi hanya Tuhan meminta kita jujur.

Jangan tunggu hidup kita hancur, baru kita melepas topeng, hari ini di Rabu Abu ini, biarlah abu yang di dahi kita turun sampai ke hati kita, bukan hanya membekas di dahi kita,

Melembutkan hati yang keras, menghancurkan sikap sikap kemunafikan, dan memulihkan yang terluka.

Oleh karena itu Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M mengatakan Tuhan mencari hati bukan topeng, hari ini Tuhan tidak bertanya berapa lama saudara melayani, seberapa aktif saudara diibadah, seberapa rohani penampilan anda.

Tapi Tuhan berkata apakah hatimu sungguh milikku, sehingga Rabu Abu adalah sebuah undangan dari Tuhan untuk kita melepaskan dari kemunafikan, mengoyakkan hati dan kembali ke Tuhan, amin dan masuk saat hening.

Usai saat hening, memasuki ritus pengolesan abu, dimana Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M melakukan narasi pengakuan doa yang dilanjutkan dengan saat hening dan menyanyikan lagu Selidiki Aku.

Setelah pembacaan narasi pengakuan dosa, Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M melakukan doa sebelum melakukan pengolesan Abu di setiap dahi jemaat.

Usai berdoa, barulah ritus pengolesan abu, dimana para majelis berdiri di depan untuk menerima olesan abu, yang pertama abu pertama adalah Sdri Claudia AMT, S.Si Teol yang diolesi oleh Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M.

Selanjutnya giliran Sdri. Claudia AMT, S.Si Teol mengolesi abu ke dahi Pdt Dr. Charliedus R Saragih, M.M

Kemudian giliran para majelis diolesi Abu oleh Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M dan Sdri. Claudia AMT, S.Si. Teol dengan diiringi nyanyian Hanya Debulah Aku, bersamaan dengan para jemaat yang antre satu persatu mulai dari barisan depan hingga ke belakang dan samping kanan serta kiri.

Lagu Hanya Debulah Aku tetap mengiringi selama proses pengolesan abu di dahi tiap jemaat.

Usai semua jemaat terolesi abu di dahinya, Pdt Dr Charliedus R Saragih membacakan narasi berita anugerah yang terambil dari injil 1 Yohanes 1 ayat 9 yang berbunyi

“Jika kita mengaku dosa kita, Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

Dan dibalas secara berbalasan dengan jemaat dengan akhirnya Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M bersama Sdri Claudia AMT, S.Si Teol serta para majelis jemaat menyalami jemaat satu persatu yang menimbukan riuh rendah ruangan ibadah utama GKI Camar Bekasi

Selanjutnya, Pdt dan calon pendeta bersama majelis jemaat yang bertugas kembali ke nimbar dan melanjutkan ibadah yang tersisa.

Para jemaat kemudian menyanyikan pujian, Jadilah Terang Kami, usai menyanyikan pujian dilanjutkan dengan doa syafaat yang salah satunya mendoakan keluarga Bapak Martinus Sembiring yang baru kehilangan sang kepala keluarga pada dinihari tadi, semoga dikuatkan dalam segala kondisi.

Usai doa syafaat, ibadah dilanjutkan dengan pengutusan dari Pdt Dr Charliedus R Saragih, MM menopangkan tangan, jemaat menyanyikan pujian Di Dunia yang Cemar.

Usai menyanyikan pujian Di Dunia yang Cemar, barulah tangan Pdt Dr Charliedus R Saragih, menopang ke semua jemaat dari atas nimbar seraya berkata…

“Kasih Allah Bapa meneguhkan langkahmu, rahmat Yesus Kristus menyucikan hatimu, dan persekutuan Roh Kudus memampukanmu hidup tulus dan benar di tengah dunia yang cemar,”

Yang disambut dengan jemaat secara serentak menyanyikan pujian Hosana, Amin menandakan ibadah Rabu Abu telah selesai.

Pdt Dr. Charliedus R Saragih, M.M memberikan Alkitab besar kepada Penatua dan berjalan turun menuju bagian belakang bersama calon pendeta serta majelis jemaat.

Para jemaat pun mengambil posisi saat teduh, dan usai saat teduh berakhir, satu persatu jemaat meninggalkan ruang ibadah untuk memberikan salam kepada Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M bersama majelis jemaat atau bersenda gurau dengan sesama majelis jemaat sembari menunggu giliran bersalaman dan kembali ke kediaman masing masing. ***

Leave a Reply

Back to top