GKI Camar Gelar Pagi Puji dan Doa

GKI Camar Gelar Pagi Puji dan Doa

GKI Camar Gelar Pagi Puji dan Doa 1200 628 Rhesa Lorca

Setelah tertunda dikarenakan situasi iklim yang tidak menentu membuat hari ini bertepatan dengan hari Kasih Sayang atau Valentine, Majelis Jemaat menggelar Pagi Puji dan Doa di tahun 2026

Renungan Pagi Puji dan Doa ini diadakan di ruang ibadah utama pada pukul 08.00 WIB dengan pelayanan firman Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M dengan tema Capek Berharap ? Masih ada Tuhan yang mengutip dari injil Ratapan 3 ayat 21 hingga 23.

Ibadah pagi ini dimulai dengan menyanyikan pujian berjudul Tiada Berkesudahan Kasih Setiamu yang dilanjutkan dengan doa pembukaan oleh Kak Megi.

Kemudian pembacaan Mazmur dari Mazmur 100 ayat 4 oleh Penatua Agnes Simatupang yang dilanjutkan dengan mengangkat satu pujian berjudul Ya Allah, Kasihmu Besar.

Lalu doa pokok pertama yang dibawakan oleh Penatua Agnes Simatupang yang mengangkat pokok pokok doa berupa mendoakan para pelayan pelayan di GKI Camar, kemudian Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M dan calon pendeta Sdri Claudia AMT, S.Si Teol serta majelis jemaat GKI serta para aktivis dan pengurus di Komisi, Pokja, PKK, Pemusik, Multimedia, Digital dan karyawan GKI Camar agar diberi hikmat sukacita dalam melakukan bagiannya dalam melayani umat.

Usai panjatkan doa pokok pertama, para jemaat yang hadir dalam Pagi Puji dan Doa melantuntkan satu pujian yaitu Bila ku Berdoa pada bait 1 yang dilanjutkan dengan doa pokok kedua yang dibawakan oleh Bapak Patrick Sinaga.

Dalam pokok doa kedua ini mengangkat untuk mendoakan jemaat dan simpatisan lintas generaasi mengalami pertumbuhan iman melalui gereja ini dan terus menjadi saksi yang benar dimanapun mereka berada.

Lalu mendoakan negara kita tercinta, Indonesia untuk keselamatan dan keamanan serta dijauhi dari perang seperti yang dialami oleh negara negara lain, serta mendoakan pemerintahan yang adil, dan perekonomian, pendidikan dan kesehatan agar membawa dampak yang real pada kesejahteraan rakyat banyak.

Selanjutnya menyanyikan pujian Bila Ku Berdoa pada bait ke 2 dan 3 yang dilanjutkan dengan sharing dari Opa Willem Frans Jacob namun karena satu lain hal diakibatkan kesehatannya akibat kakinya terkilir membuat Opa tidak bisa memberikan kesaksian dihadapan jemaat Pagi Puji dan Doa.

kemudian ditambahkan dengan kesaksian oleh Ibu Merry Simanjuntak dengan perjuangan dirinya dan anaknya dalam menghadapi kesehatan anaknya yang cukup mengagetkan bagi semua orang.

Hal ini disampaikan oleh Penatua Bernadus Voerman yang sejatinya menjemput Opa Willem namun hanya menyampaikan pesan saja kepada para jemaat dan simpatisan yang hadir pada Pagi Puji dan doa.

Yang langsung dilanjutkan dengan pembacaan renungan yang diawali dengan doa oleh Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M.

Tema yang dibawakan oleh Pdt Dr. Charliedus R Saragih, M.M adalah Capek berharap ? Masih ada Tuhan yang terambil dari injil Ratapan 3 ayat 21 hingga 23.

Dalam renungannya, Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M mengatakan sebuah dilema yang tentunya dialami anak anak Tuhan ketika menjalani kehidupan kita, harus di sadari bahwa ada masa masa hidup ini dimana kita lelah berharap apapun alasannya.

Banyak berharap ekonomi membaik tapi belum terjadi, berharap keluarga bisa berubah tapi belum terlihat, berharap doa di jawab tapi terasa sunyi mungkin dari tahun lalu doa doa kita belum di jawab sampai pergantian tahun, ada titik masa dimana merasa kita lelah capek kok Tuhan kok ndak jawab tidak hadirkan perubahan, pola yang seringkali timbul.

 

Harapan yang terus tertunda bisa jadi kelam sampai akhirnya orang berkata untuk apalagi berdoa tidak ada gunanya, tidak ada hasilnya, hingga ada satu muncul pertanyaan, Tuhan masih adakah untuk hidupku, Tuhan masih adakah di dalam hari hari ku muncul pertanyaan di tengah capainya menunggu Tuhan.

Bagaimana kita bisa melihat bahwa pengharapan itu bukti kesetiaan kita  kepada Tuhan.

Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M  mengambil kisah dari seorang gadis dari Amerika Serikat bernama Joni Eareckson, dia suka bersemangat dengan berkuda atau berenang, kita seringkali melihat orang orang seperti dia yang penuh semangat.

Namun suatu hari, saat menyelam di sebuah danau, kepalanya membentur batu yang dangkal dan mengalami kelumpuhan dari leher hingga seluruh badan, dalam sekejap hidupnya berubah, mungkin kita berpikiri dia  dari gadis aktif dan punya cita cita serta rencana rencana hidup terjadi.

Dalam perjalanan hidup dia mengalami masa masa dia mengalami keputusasaan, di awal masa kelumpuhan mengalami pergumulan batin yang berat sama sekali.

Semua orang ingin sehat dan baik baik saja, tapi siapa yang menjamin  menggaransi bahwa hidup itu baik baik saja yang kita jalani, di balik ke tidak baik baikan kita bisa melihat kebaikan Tuhan, itulah poinnnya.

Justru ia berkata di tengah tengah pergumulan yang berat, aku tidak hanya kehilangan tubuhku, aku merasa kehilangan masa depanku, orang lumpuh tidak bisa ngapa ngapain.

Dia lelah berharap, berharap bisa berjalan lagi namun tidak terjadi, dia berharap mujizat instan tapi tidak kunjung datang, dia berharap hidup kembali normal punya semangat dan gairah keaktifan namun tidak terjadi hingga pada titik bahwa hidupnya tidak ada gunanya, luar biasa sampai titik itu dia mengatakan seperti itu

Namun dia ketika melewati masa masa sulit dan pergumulan dan pada satu titik balik menemukan Tuhan di tengah Tuhan. Dalam proses pemulihan orang orang percaya di sekitarnya tetap teruskan menguatkan iman kepada dia.

Pelan pelan dia membaca Alkitab lebih dalam bukan mencari kesempurnaan fisik namun mencari kehadiran Tuhan, dia membaca firman Tuhan bukan modusnya untuk sembuh, karena dia telah melewati masa sulit itu, justru dia membaca Alkitab itu ingin mencari kehadiran Tuhan.

Di situlah dia menemukan kebenaran bahwa Tuhan tidak selalu membuka keadaan, namun Tuhan selalu hadir dalam penderitaan, dan perlahan lahan hatinya dipulihkan dan dia mulai belajar melukis dengan mulut, menulis buku, dan bersaksi dengan imannya.

Dia dipakai oleh Tuhan secara luar biasa, dia memiliki pengaruh dan membagi berkatnya perjalanan hidupnya kepada orang orang di seluruh dunia, dia terkenal sebagai penulis buku Kristen terlaris, pembicara internasional dan aktivis bagi penyadang disabilitas, dan pelayanannya menjangkau ribuan orang yang menderita putus asa dan kehilangan arah.

Dan apa yang menjadi inspirasi bagi banyak orang karena dia pernah berkata, penderitaanku adalah pintu dimana aku melihat kemuliaan Tuhan yang lebih jelas.

Ada point dari Bu Merry, ketika lagi kuat sombong manusia itu, ketika lemah cari cari Tuhan, namun di saat kelemahan itu justru terlihat kuasa Tuhan.

Di sini kita menyadari bahwa lewat kisah dia ini mengajarkan kepada kita bahwa harapan itu bukan berarti semu, tapi harapan berarti Tuhan tetap bekerja, itu poin harapan

Tapi jangan dalam mindset kita, saya berharap dalam Tuhan pokoknya di balik negatif menjadi positif dari sakit menjadi sembuh, tapi kita belajar bahwa orang yang berpengharapan itu orang yang masih punya harapan, adalah orang yang masih mengimani Tuhan tetap bekerja, harapan berarti hidup mempunya tujuan.

Kalau dia sudah putus, hoples, sudah merasa bahwa hidupnya tidak berguna, saat tubuhnya lumpuh, imannya berdiri tegak.

Disini gadis muda yang aktif itu tidak dipulihkan dalam kelumpuhan namun dipulihkan dari keputusasaan, dan membuat dia tetap berharap.

Kitab Ratapan ditulis ditengah kehancuran Yerusalem, kota hancur, masa depan gelap, masyarakatnya putus asa itu yang dialami.

Justru di tengah puing puing itulah lahir pengakuan iman yang kuat, tak berkesudahan kasih setiaNya, tak habis habisnya rahmatnya selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan.

Dari sini kita belajar, yang pertama saat harapan manusia habis harapan kepada Tuhan dimulai, penulis Ratapan tidak menutup mata dari penderitaan dia jujur, dia terluka, pahit, kecewa, tapi justru berkata tapi hal hal ini ku berkata oleh sebab itu aku berharap.

Harapan muncul bukan dalam keadaan membaik, karena dia memilih Tuhan, penderitaan dan Tuhan, kita fokus pada penderitaan atau ingat Tuhan.

Kita lelah berharap karena berharap pada apa, orang lain, situasi atau pada diri sendiri, maka dari kita banyak kecewa karena harapan yang besar.

Orang tua punya harapan besar kepada anaknya, karena ekspektasi, pasti kalau tidak terjadi orang tuanya kecewa, kenapa ? karena indikator harapan dari orang tua, jangan jangan Tuhan punya rencana yang lain untuk anak

Seringkali kita punya konsep itu, kenapa ? karena kita hanya tetap berharap pada situasi orang lain kita terbatas, tetapi kita fokus kepada Tuhan harapan untuk mendapatkan sumber itu adalah unlimited atau tidak terbatas.

Kedua, kasih Tuhan tidak pernah habis, kasih manusia mengasihi seringkali capai, lelah.

Bahkan ada ketika orang tua, mama tidak tahu lagi gimana ngurusin kamu udah mentok, dengan cara ini salah cara itu salah, ngeyel terus karena memang terbatas.

Karena dalam ayat 22 mengatakan tak berkesudahan kasih setia Tuhan, dalam bahasa aslinya Hesed atau Khesesd yang memiliki arti kasih yang setia berjanji tidak meninggalkan.

Artinya apa ? saat kita jatuh, Dia tetap setia, saat doa belum dijawab dia tetap bekerja, saat kita lelah dia tidak ikut lelah, itu cara Tuhan.

Harapan kita sering habis karena kita selalu mengukur Tuhan dari keadaan seharusnya kita mengukur keadaan dari kesetiaan Tuhan. Kita melihat dari kesetiaan Tuhan bukan penderitaan Tuhan

Yang ketiga, selalu baru tiap pagi dan ini indah sekali, bukan setahun sekali tapi tiap pagi.

Ketika saudara buka mata, Tuhan itu selalu senyum kepada kita selamat pagi, cuma tapi kita memilih ponsel, Tuhan juga ingin disapa tapi kita seringkali ambil pellan, sapu, sapa dulu kepada Tuhan kenapa sadar kita bangun dan bernapas, dan Tuhan menyapa kita namun kita lupa.

Ndak apa apa, kasih setia Tuhan bukan satu tahun sekali atau dalam ibadah namun tiap pagi artinya tiap hari Tuhan berikan kekuatan, harapan dan kesempatan baru.

Tiap hari kita diberikan kesempatan untuk tetap berharap, berharap itu apa kita mengimani Tuhan bekerja, berarti kesempatan melihat Tuhan sedang bekerja, disitulah kita memahami bagaimana Tuhan yang selalu setia.

Mungkin masalah kita belum selesai sampai hari ini kita ke gereja masalah kita belum selesai, namun percaya rahmat Tuhan kasih setia diperbaharui untuk hidup kita di besok dan setersunya.

Harapan bukan tentang masalah hilang, tapi tentang Tuhan memberikan kekuatan untuk kita tetap kuat berjalan.

Panggilan kita apa ? panggilan kita adalah harapanmu boleh lelah, tapi Tuhanmu tidak pernah lelah, doamu boleh terasa sunyi tapi kesetiaanNya tetap berbunyi.

Air matamu boleh jatuh, tapi kasih setianya selalu turun dalam hidupmu, oleh karena itu Ratapan pasal 3 ini tidak dimulai dengan sukacita namun dimulai tangis, amun bukan diakhiri dengan putus asa namun berakhir dengan pengharapan.

Ketika kita datang kepada Tuhan memang dengan air mata, tapi belajarlah bagaimana kita tetap bersyukur, harapan kepada dunia bisa abis namun harapan kepada Tuhan tidak pernah habis.

Kalau kita saat capai berharap, mari istirahat di hadapan Tuhan, ngobrol sama Tuhan, cerita sama Tuhan, kalau sampai hari ini kita lelah menunggu kita diingatkan pegang kesetiaan Tuhan.

Kalau hari ini kita hampir menyerah, ingat kasih setianya selalu baru tiap pagi, rasakan hirup udara itu, kenapa ? karena kita bangun dan hirup udarah pagi, Tuhan kasih kesempatan untuk dapat melihat apa yang Tuhan kerjakan.

Jadi berhentilah untuk lelah tapi teruslah untuk berharap karena apa ? karena Tuhan tidak pernah lalai akan janjinya, kiranya ini menguatkan kita semua, amin.

Usai renungan dilanjutkan dengan menyanyikan pujian Bila Ku Berdoa dilanjutkan dengan doa yang berasal dari pokok pokok dan pergumulan jemaat yang ditutup dengan pujian Bapa Terima Kasih.

Pagi Puji dan Doa pun usai, dan ditutup dengan photo bersama dan ramah tamah menyantap kudapan kue yang telah disediakan sebelum kembali ke kediaman masing masing dan beraktivias lainnya. ***

Leave a Reply

Back to top