Dalam nuansa putih putih, GKI Camar gelar ibadah Minggu Tansfigurasi pada Minggu 15 Februari 2026.
Ibadah Minggu Transfigurasi ini dilayani oleh Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M. dengan tema Diteguhkan oleh Cahaya KemuliaanNya dalam dua sesi pukul 06.00 dan 17.00 WIB.
Dalam ibadah ini ayat Alkitab yang dibacakan serta direnungkan terambil dari Keluaran 24 ayat 12 hingga 18, dilanjutkan 2 Petrus 1 ayat 16 hingga 21 serta Matius 17 ayat 1 hingga 9.
Dalam Khotbahnya, Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M mengatakan bahwa hari ini kita berbicara masa Transfigurasi masa dimana Tuhan dimuliakan di atas gunung.
Minggu Transfigurasi ini adalah penegasan walau satu sisi hal yang menakutkan bagi para murid, kenapa hanya tiga murid saja yang diajak Tuhan, Petrus, Yakobus dan Yohanes.
Harus dipahami Petrus, Yakobus dan Yohanes adalah dipersiapkan dalam menjadi pemimpin gereja silakan baca injil Kisah Para Rasul.
Makanya di beberapa injil, Tuhan Yesus mengajak ketiga murid ini karena mereka sedang akan dipersiapkan untuk menjadi kelanjutan pelayanan yang Tuhan Yesus akan tinggalkan ketika Dia naik ke surga.
Bicara diteguhkan oleh cahaya kemulianNya mau berbicara sesuatu yang nampak kasat mata oleh ketiga murid ini dan ada kehadiran Musa dan Elia.
Musa dan Elia kenapa dihadirkan dalam peristiwa Transfigurasi karena mereka adalah nabi besar yang memberikan sebuah penegasan bahwa perjalanan dan karya Tuhan Yesus sampai pada saat itu hingga akan di lakukan jalan salib tidak lepas dari nubuat kisah perjanjian lama.
Kenapa hal tersebut menjadi sebuah peneguhan bagi perjalanan via dolorosa oleh Tuhan Yesus.
Memang waktu ini berjalan cepat, Natal baru usai kini sudah mau Pra Paskah, inilah makna dalam liturgi gereja bagaimana kita menyelami setiap perjalanan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.
Bicara tentang diteguhkan oleh cahaya kemulianNya, ini saya memulai dengan sebuah pertanyaan.
Apa yang saudara inginkan memuji orang atau dipuji orang ? yang mau cari aman memuji orang Pak Pendeta.
Secara kedagingan kita ingin dipuji, apalagi baru pelayanan kita tunggu berdiri ada yang bilang terima kasih atau hebat, kalau ndak ada yang mengatakan saya tidak akan datang lagi.
Artinya kita selalu beririsan dengan hal hal yang bersifat duniawi atau kedagingan karakteristik kita yang tanpa dipungkiri itu akan membuat kita terbiasa untuk menunggu dipuji.
Ketika kita akan memuji orang, kita biasa melihat lihat dulu yang mana dulu pantas dipuji mana yang tak pantas, kalau pantas saya puji karena ada take and giftnya nanti suatu saat dia akan memuji saya.
Kalau saya puji orang yang tidak pernah puji saya, saya nggak mau puji lagi itulah realita yang terjadi dalam kehidupan kita entah apapun yang menjadi kelebihan kamu baik hati, kamu tulus dalam pelayanan dan suara kamu bagus apa yang kamu lakukan berpengaruh dalam kehidupan berjemaat


Sebuah konsep puji memuji itu berbicara tentang sebuah hal lebih dari orang lain, justru hari ini kita belajar bersama bagaimana justru pujian yang ditujukan dalam peristiwa Transfigurasi, trans dan figur, figura perubahan wajah, itu yang menjadi penegasan dari kata Transfigurasi.
Bukan wajah dari Tuhan Yesus berubah secara fisik, namun disitulah dia diteguhkan untuk bisa dan berani menghadapi hal hal yang akan dihadapkan oleh dunia, penolakan, apa yang ia beritakan diragukan, apa yang dia kerjakan disanksikan, apa yang dilayani tidak dipuji orang disitulah ia diteguhkan.
Itulah peristiwa Tranfigurasi terjadi dalam liturgi gereja saat saudara diteguhkan, calon pendeta ditahbiskan, pengurus dilantik disitulah peristiwa Transfigurasi dalam diri kita, apa artinya ? kita tidak lagi menonjolkan kedagingan kita, kita tidak lagi menonjolkan kemanusiaan kita tapi kita diubahkan secara wajah hati panggilan ini yang menjadi refleksi buat kita semua bila bicara tentang panggilan.
Ada kisah pelayanan retreat pemuda di sebuah camping ground, panitia bilang mari kita naik ke gunung itu dan berdoa mencari Tuhan dan kemuliaan Tuhan, dan semua peserta naik dengan semangat terlebih dengan semangat anak muda.
Sampai di puncak, kabut terbuka dan matahari terbit pemandangannya luar biasa indah dan semua terdiam dan kagum untuk melihat suasana yang mereka rasakan rohani sekali.
Ada tiba tiba ada anak muda berteriak, eehh cepat cepat cahaya bagus banget selfie dulu sebelum hilang, akkhirnya ada pose tangan terangkat, ada yang pura pura menangis rohani, ada yang bilang filter apa kemuliaan present kah.
Kemudian selesai mereka turun gunung dan ditanya oleh panitia, apa yang kalian dapat dari pengalaman di atas gunung tadi, ada yang jawab dengan bangga, saya dapat kak dan panitia gembira dan katakan dengan mengatakan Puji Tuhan.
Saya dapat like 327,89 like dan share 12, banyak kita seringkali tergoda untuk dapat menunjukkan sesuatu yang tanda kutip kemuliaan, kemegahan untuk dapat direspon orang lain.
Kita belajar disini, banyak orang naik ke gunung kemuliaan, tapi pulang bawa photo bukan peneguhan, murid tidak dipanggil untuk mengabaikan moment makanya Petrus mengatakan Tuhan kami buat tenda ya ? karena Petrus kagum melihat cahaya kemuliaan itu karena tidak dapat ia alami dan dapat.
Murid Tuhan tidak dipanggil untuk mengabaikan moment belaka tetapi diteguhkan menghadapi sabuk, artinya apa kemuliaan Tuhan bukan untuk diposting tapi untuk menguatkan kita menjalani panggilan.
Jangan sampai kita lebih sibuk mengingat pengalaman rohani daripada hidup pembaharuan dari peneguhan rohani.
Tapi kalau dipikir pikir, ketiga murid Yesus hidup di jaman kita saat ini, ketika di gunung Transfigurasi mungkin Petrus bukan mau bikin kemah atau tenda, tapi bikin vlog, shalom guys hari ini kita collab sama Musa dan Elia dengan ciri anak muda dengan dikit dikit vlog atau divideokan.
Transfigurasi bukan hanya Tuhan Yesus berubah rupa, tapi itulah cara Allah meneguhkan iman yang akan segera diguncangkan.

Masa masa PraPaskah adalah masa masa kita benar menyelami penyangkalan diri aksi puasa, bagaimana menyelami bagaimana perjalanan Tuhan Yesus yang tidak mudah dan Ia harus melewati itu semua yang seharusnya manusia yang memiliki dampak yang dilakukan.
Disini kita menyadari sebelum murid murid turun ke lembah penderitaan, Allah membawa mereka naik ke gunung kemuliaan.
Dari sini kita belajar, kemuliaan Tuhan bukan didikan sesat tapi untuk meneguhkan hidup dan kesaksian.
Kekaguman itu kita dinikmati kita tonton, tapi tidak pernah berdampak untuk meneguhkan panggilan kita sebagai anak anak Tuhan, dan itu sebagai yang percuma.
Cahaya kemuliaan itu meneguhkan sebelum kita turun ke lembah, Tuhan Yesus naik ke atas gunung sebelum turun ke lembah melewati jalan penderitaan.
Artinya kita belajar, kalau Musa diteguhkan di atas gunung sebelum memimpin bangsa Israel, murid murid melihat kemuliaan sebelum menghadapi sain, dan ternyata ketika Tuhan mau mengutus seseorang percayalah Ia sudah nyatakan kemuliaan kepada orang itu, sehingga panggilan itu bukan hanya saya ikut, saya joint tidak dia merasakan dan mengalami terlebih dahulu kemuliaan Tuhan yang ditujukan kepada dia, dengan pengalaman apa pun, Tuhan berbicara lewat siapa, Tuhan menunjukkan sesuatu peristiwa ketika kita kerja, supaya apa ? supaya kita siap untuk menghadapi sesuatu yang tidak mengenakkan.
Artinya apa ? Allah memberikan kekuatan sebelum musim sulit, jadi Tuhan itu memberikan kita setelah musim sulit tapi Tuhan persiapkan kita untuk menghadapi musim sulit, jangan dibalik.
Dan saat musim sulit itu sudah ada di depan kita, kita seharusnya sudah kuat, Allah mulia menandakan apa ? Tuhan hadir walau dalam pandangan terbatas, agak kabur bagi murid melihat tapi mereka sinar itu terang sekali, tapi kekaburan itu tetap membuat mereka tidak merasa bahwa apa yang mereka lihat itu tidak ada artinya punya arti.
Kita bisa belajar apa ? Tuhan tidak menunggu kita kuat, Dia menyatakan kemuliaannya terlebih dahulu supaya kita kuat.
Kenapa ? kita sering kali dan menjadi PR, saya tidak kuat, selama kita belum mendapatkan musim sulit, kita punya relasi dekat dengan Tuhan atau tidak, atau relasi kita dekat dengan Tuhan ketika musim sulit datang, disinilah menjadi refleksi buat kita semua.
Jadi Tuhan tidak menunggu kita kuat, justru dia menyatakan dirinya kemuliaan agar menjadikan kita kuat.
Kedua, cara kemuliaan mengubah cara kita mendengar suara Tuhan, kadang kadang kita mengatakan apa jawaban Tuhan, aku ingin mengerti isi Tuhan.
Namun ada penegasan inilah anakku, dengarkanlah Dia, kemuliaan yang dinyatakan saat itu meneguhkan otoritas Kristus, sekalipun dalam perjalanan via dolorosa dia ditolak, dia diludahi, dan segala macam, apa yang diajarkan ditolak tidak diterima, otoritas Kristus tetap ada.
Kita bisa belajar disini bahwa peneguhan datang lewat firman bukan hanya pengalaman, banyak manusia hidup dengan pengalaman yang bertahun tahun tapi tidak bijaksana.
Karena kedekatan dengan firman itu yang akan membuat semakin bijaksana, kita bisa belajar dari anak kecil dia belum banyak pengalaman hidupnya tapi dari dia kita bisa mengoreksi diri kita sendiri.
Ketika bicara ketulusan, kalau dia memberikan kue, kuenya tulus memberikan tanpa harap kembali dia kasih, kalau kita sebagai orang dewasa kasih kue pikir panjang, penuh rapat dan diskusi tapi mereka bisa belajar seperti itulah Kristus Tuhan memberkati kita.
Tuhan memberkati kita saat kita membuat mata setiap pagi seringkali kita kurang bersyukur, buka mata tapi kurang bersyukur tapi kita belajar ternyata bukan hanya banyak pengalaman tanpa makna.
Semakin saudara dan saya banyak pengalaman semakin kita bijaksana di hadapan Tuhan, Kristus yang mulia adalah raja yang berdaulat.
Dunia punya pemimpin dan raja, namun dia teguhkan melalui peristiwa Transfigurasi bahwa dia adalah raja segala raja.
Dari sini kita belajar bersama sama bawa kemuliaan Tuhan bukan hanya kita takjub namun kita taat semakin taat kepada Tuhan.
Jangan cuma mengalami pertolongan dari Tuhan yang kita ceritakan tapi hidup kita tidak tunjukkan ketaatan. Justru pengalaman rohani iman itu semakin kita taat kepada Tuhan.
Ketiga, cahaya kemuliaan itu dipercayakan untuk disaksikan, pengalaman iman kita haruslah suara yang diterjemahkan kepada orang, kami adalah saksi maka kebesaranNya.
Dan ini mengajarkan kita untuk memahami, pengalaman rohani mendorong kesaksian, kita berdoa untuk bersaksi.
Dalam persekutuan kadang kadang MC mengatakan ada yang mau bersaksi, ditungguin, kita simpan di minggu depan investasinya banyak karena disimpan, seolah olah tidak ada yang perlu disaksikan tentang kebaikan Tuhan.
Terang tidak untuk disimpan, kalau kita menyimpan berarti kita menghambat pekerjaan Tuhan, sesuatu yang baik kita simpan yang harusnya bisa meneduhkan orang lain namun kita simpan, berarti kita sedang menghambat pekerjaan Tuhan pada diri orang tersebut.
Tuhan ingin menyatakan sesuatu melalui diri kita tapi kita menghambat, kesaksian itu harus menuntun pada firman, sesuatu yang kita alami bahwa ini sesuatu yang tidak enak, tapi ujungnya ada proses dimana Tuhan yang memberkati masa sulit hingga kita mendapatkan.
Misalnya luka dalam pelayanan masih dikoreksi, masih diomongin yang tidak baik kita terima, mari pahami ketika Tuhan Yesus diteguhkan Tuhan Yesus siap dengan respon dunia terhadap kehadirannya.
Ada video, dimana seorang siswa diminta mundur dari posisi garis start dalam sebuah perlombaan lari karena perbedaan kasta atau apapun, namun pada hasilnya sang anak menjadi yang pertama.
Walau diperlakukan seperti itu bukan berarti proses tidak berjalan, kita juga mengalami seperti itu seperti anak anak Tuhan tapi bukan berhenti disitu.
Mundur bukan berarti kalah, tetapi mundur bisa diartikan dia memiliki persiapan yang lebih matang jika melihat video tadi.
Kita bisa belajar diteguhkan bukan supaya istimewa tapi mampu menguatkan orang lain, saudara pernah mengalami cinta kasih Tuhan dan dikuatkan melalui pengalaman itu percaya saudara dipanggil untuk menguatkan orang lain.
Ada dua hal yang ingin Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M yaitu naiklah ke gunung rohani seperti Tuhan Yesus mengajak muridnya, untuk apa ? untuk menguatkan iman, doa dan penyembahan saudara serta juga supaya dekat dengan firman
Ketika naik ke gunung rohani, doa kitalah yang kita kuatkan, penyembahan yang kita kuatkan, firman membaca merenungkan itu yang kita kuat, carilah peneguhan sebelum badai datang.
Artinya apa, kenapa anak harus sekolah ? orang tua menyekolahkan anak supaya dia siap menghadapi badai dalam perjalanan hidup karena disitulah intelektual dan karakteristik dibentuk untuk bisa membentuk dunia.
Yang kedua, jadilah pembawa cahaya disini kita mengatakan kita menguatkan yang lemah.
Kita tahu ada orang yang lemah, jangan buat jatuh lagi atau semakin lemah tapi semakin kuat.
Doakan yang jatuh jangan berbahagia ketika ada orang yang jatuh, orang yang semakin menderita karena kita sangat bahagia.
Hiburkanlah yang terluka, jangan bergembira ketika ada yang terluka dengan mengatakan haduh syukurin, itu yang membuat kita kehilangan kemuliaan Allah.
Kesaksian terbesar adalah hidup yang memancarkan Kristus, ada kisah tentang anak muda yang hampir berhenti melayani.
Ada pemuda di sebuah gereja di salah satu negara Asia Tenggara, dia bertumbuh dalam keluarga sederhana, sejak SMA aktif melayani, main musik, memimpin doa bahkan mengajar sekolah minggu.
Begitu masuk usia kuliah, hidupnya mulai goyah, ayahnya sakit keras, ekonomi keluarganya runtuh, dia harus kuliah sambil kerja, pelayanan yang dulu ia cintai mulai terasa berat, dia lelah, kecewa.
Bahkan dalam doanya mengatakan Tuhan aku melayani tapi kenapa hidupku justru semakin gelap, karena tekanan hidup yang membuat ia peutuskan berhenti melayani.
Dalam satu waktu titik balik, ada cahaya di gunung yang dialami satu malam, dia tetap datang ke retreat pemuda meski hatinya kosong.
Di sesi penyembahan malam firman yang dibacakan adalah kisah Transfigurasi pengkhotbah berkata dengan kalimat sederhana, Yesus menunjukkan kemuliaanNya bukan supaya murid muridnya tinggal digunung supaya mereka kuat ketika turun ke lembah.
Kalimat itu seperti menembus hatinya, dia menangis dan dia sadar Tuhan tidak pernah meninggalkan dirinya, justru selama dia Tuhan meneguhkan dan malam itu berdoa.
“Tuhan kalau cahayaMu nyata teguhkan hatiku bukan ubah keadaan ku tapi kuatkan hatiku. “
Dan apa yang jadi buah peneguhan itu, keadaan hidupnya tidak langsung berubah, ayahnya tetap sakit, keuangannya tetap sulit, kuliahnya tetap berantakan tapi ada yang berubah hatinya diterangi kuasa Tuhan.
Dia kembali melayani, bukan karena hidupnya semakin mudah tapi karena dia hidupnya sudah diteguhkan.
Beberapa tahun berikutnya, Tuhan perkenanan dia menjadi pembina, pembicara pemuda di berbagai tempat dia menolong banyak pemuda yang hampir mundur dan sering berkata.
“Aku tetap melayani bukan karena hidupku terang dan tenang, tetapi aku pernah disentuh cahaya kemuliaan,”
Kisah ini menegaskan apa saudara, cahaya kemuliaan Tuhan seringkali datang di tengah kelelahan pelayanan, peneguhan Tuhan tidak mengubah situasi tetapi penguatkan panggilan.
Kita naik ke gunung rohani supaya kuat turun dalam melayani, mungkin saat ini kita lelah melayani, lelah mengasihi keluarga, lelah berjalan dalam iman, tapi ingat satu sentuhan cahaya kemuliaan Tuhan sanggup meneguhkan kita kembali.
Oleh karena itu saudara, kita diselamatkan untuk menyembah, dan penyembahan adalah bahan bakar ari setiap kesaksian, penyembahan ini adalah bahan bakar saudara memiliki kendaraan yang berisi minyak atau listrik, kalau tidak dicharge atau diisi tidak akan jalan.
Kalau dikatakan kita diselamatkan menyembah, ndak bisa lagi dikonfrontasi kita menyembah Tuhan dan penyembahan adalah bahan bakar.
Penyembahan bukan saat nyanyi di kamar mandi, itu bukan penyembahan, nyanyi saat kita tanpa hati yang tulus.
Penyembahan itu adalah kita punya quality time dengan Tuhan, waktu spesial dengan Tuhan tidak diganggu dengan apapun antara saya dengan Tuhan, itulah penyembahan yang sejati.
Refleksi kita hari ini menurut Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M ada dua pertanyaan yang coba mengajak kita menjawab sendiri.
Jika kita mengaku pernah disentuh oleh cahaya kemuliaan-Nya, mengapa hidup kita masih redup? Mengapa hidup kita memiliki dosa, mengapa hidup kita masih terus bergantung pada dunia sehingga cahaya dari diri kita redup semakin redup dan tidak menghadirkan cahaya kemuliaan Tuhan.
Jika hari ini Tuhan Yesus bertanya sudah kah kita menjadi saksinya dengan setia, apakah kesaksian kita itu menceritakan kemuliaan Tuhan, atau menceritakan kehebatan kita sendiri.
Ketika kita menceritakan kehebatan diri kita sendiri, orang orang akan mengatakan kamu hebat tapi besok ucapan itu hilang.
Tapi jika kita menceritakan kemuliaan Tuhan, kita meninggalkan jejak dalam hati orang lain, sehingga besok kemuliaan Tuhan itu tidak akan pernah hilang.
Selamat memasuki masa masa Pra Paskah kiranya Tuhan akan selalu meneguhkan kita bukan hanya untuk mengakui karya karya Tuhan di atas gunung, tapi Tuhan mengutus kita ke dalam lembah untuk mempersaksikan kemuliaan Tuhan.
Usai khotbah dan saat hening, ibadah Minggu Transfigurasi ini dikuatkan dengan kesaksian pujian dari Wilayah 2 pada sesi pagi hari dan Paduan Suara Mazmur di ibadah sore.




Setelah kesaksian pujian dilanjutkan dengan pengakuan iman rasuli yang diikuti oleh seluruh jemaat dengan sikap berdiri sempurna.
Usai pengakuan iman rasuli, ibadah dilanjutkan dengan pembacaan surat keputusan dan pemberian ucapan terima kasih kepada Tim Badan Pemeriksa Harta Milik Jemaat atau BPHMJ yaitu IGA Ribka Triyunita, J Caroline Assa dan Marcella Salim.
Penyerahan tanda terima kasih kepada tim BPHMJ setelah dibacakan surat keputusan yang ditanda tangani oleh Penatua Anton Purba dan sekretaris Penatua Joice Panjaitan diserahkan oleh Penatua Bianca Parlina kepada ketiga orang pengurus BPHMJ di hadapan para jemaat GKI Camar Bekasi.
Setelah penyerahan tanda terima kasih kepada Badan Pemeriksa Harta Milik Jemaat, dilanjutkan dengan doa syafaat yang diakhiri dengan doa Bapa Kami yang di nyanyikan bersama.
Selanjutnya persembahan dengan mengutip ayat Alkitab dari injil 1 Tawarikh 29 ayat 14, selama kantong persembahan berwarna putih diedarkan, para jemaat dan simpatisan GKI Camar Bekasi menyanyikan Ya tuhan Hanya Inilah.
Dan terakhir adalah pengutusan yang dilakukan oleh Pdt Dr Charliedus R Saragih, M.M dengan menopangkan tangannnya seraya berkat

“Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau, Tuhan menyinari engkau degan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia. Tuhan menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberikan engkau damai sejahtera,”
Yang disambut dengan para jemaat dan simpatisan menyanyikan Halleluya, Amin setelah itu Pdt Dr Charliedus R Saragih memberikan Alkitab besar kepada penatua dan turun ke nimbar.
Yang dibarengi para jemaat dan simpatisan menyanyikan lagu tema pelayanan Tuhan Tolonglah Bangunkan Iman, setelah itu jemaat dan simpatisan mengambil posisi duduk untuk bersaat teduh sejenak menandakan ibadah telah selesai.
Para jemaat pun secara tertib keluar dari ruang ibadah dengan menyalami pendeta, penatua dan petugas yang bertugas pada ibadah Minggu ini seraya mengucapkan Selamat Hari Minggu, Tuhan Berkati dan kembali ke kediaman masing masing atau membeli sedikit makanan di kedai Camar. ***
Leave a Reply