Dalam Minggu Pra Paskah I serta dalam rangka pertukaran Penatua GKI Klasis Jakarta Selatan, Angklung Usinda Immanuel ikut serta dalam program ini bersama Penatua Haposan Siahaan dan Penatua Agnes R Simatupang melayani serta menampilkan pujian dengan Angklung di hadapan Jemaat GKI Kranggan, Jatisampurna, Bekasi
Di Minggu Pra Paskah I ini selain Penatua dan Angklung Usinda Immanuel menjadi bagian dari program pertukaran Penatua Klasis Jakarta Selatan, GKI Kranggan juga mendapatkan kehormatan ikut serta dalam pertukaran pelayan firman kekonstitorium GKI Sinwil Jawa Barat wilayah Jakarta
Sementara tiga pendeta Jemaat GKI Kranggan yaitu Pdt Marto Marbun melayani Bajem Cileungsi, Pdt Iman Sugio Ibrahim di GKI Rengasdeklok, Karawang dan Pdt Christina Ospara melayani di GKI Depok.
GKI Kranggan gelar ibadah Minggu sebanyak tiga kali dan pada pukul 09.30 terdapat live streaming mengambil tema Melepas Ke-Aku-An yang akan dilayani oleh Pdt Jeffry Aswin Hartanto dari GKI Sumbawa Dua, Jakarta.
Ayat Alkitab yang menjadi pegangan pada Jemaat pada Minggu Pra Paskah I ini adalah dari injil Kejadian 2 ayat 15 hingga 17 dilanjutkan dengan pasal 3 ayat 1-7
Kemudian, antar bacaan Mazmur 32 Kau Perlindunganku yang didaraskan dan ayat bacaan kedua, terambil dari injil Roma 5 ayat 12 hingga 19
Dilanjutkan dengan pembacaan injil penutup yang terambil dari injil Matius 4 ayat 1 hingga 11.
Setelah pembacaan warta jemaat lisan oleh penatua, selanjutnya penatua melakukan penyalaan lilin Prapaskah yang dibarengi dengan pujian Tinggallah BersamaKu yang dinyanyikan pemusik serta songleader.
Kemudian Jemaat menyanyikan Ku Ingin Menghayati untuk proses masuk Pdt Jeffry Aswin Hartanto bersama Penatua masuk dan naik ke atas nimbar.
Setelah Pdt Jeffry Aswin Hartanto berada di atas nimbarnya, melakukan Votum yang dilanjutkan dengan salam dan mempersilakan jemaat kembali duduk.
Selanjutnya liturgos membuka ibadah dengan menarasikan pengakuan dosa dan diikuti dengan doa pengakuan doa secara pribadi dan liturgos yang disambut dengan pujian Bila Kurenung Dosaku.
Usai pembukaan dan pengakuan dosa, ibadah dilanjutkan dengan salam damai yang tertulis dalam injil Roma 5 ayat 17, dimana para penatua, pendeta dan jemaat saling memberi salam kepada sesama jemaat di kanan kiri depan belakangnya bersamaan dengan pujian Salam Damai.
Selanjutnya jemaat menyanyikan pujian Jadilah Terang Kami sebelum memasuki persembahan pujian dan firman dari Pdt Jeffry Hartanto.
Angklung Usinda Immanuel memberikan kesaksian pujian dengan judul Ku Tak Tahu kan Hari Esok yang mendapatkan apresiasi applaus dari jemaat GKI Kranggan.

Usai penampilan Angklung Usinda Immanuel, dilanjutkan dengan doa pelayan firman dan pembacaan ayat firman Tuhan yang terambil dari injil Kejadian 2 ayat 15 hingga 17 dilanjutkan Pasal 3 ayat 1 hingga 7.
Dilanjutkan dengan menyanyikan Mazmur 32 yang berjudul Kau Perlindunganku dimana jemaat menyanyikan bagian refrain serta didaraskan oleh solois.
Bacaan kedua terambil dari injil Roma 5 ayat 12 hingga 19 dan bacaan terakhir dimana jemaat berdiri dibacakan oleh Pdt Jeffry Aswin Hartanto yang terambil dari injil Matius 4 ayat 1 hingga 11 yang dibalas dengan menyanyikan Hosana.
“Demikianlah Injil Tuhan Yesus Kristus. Berbahagialah mereka yang mendengarkan FirmanNya dan memelihara Firman itu dalam hidupnya,”
Usai menyanyikan Hosana dan kembali duduk, Pdt Jeffrey Aswin Hartanto memulai khotbah dengan perkenalan mengenai dirinya dan asal gereja yang ternyata bukan di wilayah Nusa Tenggara tapi wilayah Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat.
Ada penggalan lagu, bukan lagu gereja tapi lagu populer isinya berikut lagu ini, ini bukan lagu bukan kepada mereka yang menyerah kepada keadaan, aku tidak mau hanya jadi orang biasa tanpa arti, ini hidup ku, sekarang atau tidak sama sekali, aku ingin sungguh sungguh hidup selagi masih hidup.
Seperti kata Frank Sinatra dalam lagu My Way, aku pun menjalani hidup dengan pilihanku sendiri, hatiku itu seperti jalan yang terbuka, bebas, berani melangkah karena aku tidak hidup untuk selamanya, jadi aku ingin hidup dengan arti sekarang.
Lirik di atas adalah terjemahan dari lagu Band Rock terkemuka, Bon Jovi, It’s My life yang menceritakan tentang bagaimana kehidupan dari Jon Bon Jovi, yang menggambarkan hidup adalah sekali, jadi harus ada keberanian mengambil keputusan sendiri, keberanian untuk melangkah..
Seperti dalam hidup kita punya pilihan, kita punya anak mau mengambil keputusan untuk studi di dalam kota atau negeri atau luar kota dan negeri, keputusan melanjutkan kehidupan, melanjutkan pekerjaan atau berhenti bekerja untk berwirausaha atau untuk fokus keluarga.
Keberanian untuk melangkah, menikah, inilah lagu yang menggambarkan tentang keberanian mengambil keputusan sendiri, karena hidup itu hanya satu kali, kesempatannya harus digunakan dengan baik selama masih hidup, jadi hidup itu mau betul betul penuh arti.
Seolah hidup ini menjadi tanggung jawab bagi seluruh kita, pilihan pilihan itu ada pada kita, ya memang ada positifnya kalau kita lihat, setiap orang bisa mengambil keputusan, setiap orang bisa memilih, setiap orang bisa melangkah, setiap orang berani untuk berjalan karena hidup itu satu kali.
Tapi jangan sampai hal ini pun juga sampai ke dalam titik ke-aku-an atau keegoisem yang terselubung
Maksudnya, di dalam hidup ini hanya mengandalakan pilihan, ketika aku boleh melangkah, memilih sebebas bebasnya tapi ketika saya tidak peduli dampaknya baik bagi orang lain, membahayakan orang lain, baik untuk diri saya sendiri, karena saya mau cepat cepat, saya maunya hanya berhasil,itu hal yang menjadi bisa berbahaya
Jadi dalam lagu ini yang kelihatan hebat itu adalah siapa ? kalau itu It’s My Life berarti ya tentang saya, ini adalah tentang aku, katanya hebat kali ya aku, hebat sekali, siapa sih aku ini kalau ditanya.
Aku adalah ya mungkin gambaran bagi diri kita masing masing, aku yang berani mengambil keputusan, aku menjadi orang yang mungkin kadang kadang ingin menjadi orang yang berarti, aku pun yang ingin mengisi kehidupan itu, iya si aku ini adalah diri kita sendiri yang sering kali juga mempunyai sifat ke-Aku-an
Jadi kalau disini temanya melepas ke-aku-an adalah sifat, ke-aku-an adalah sebuah sifat yang layaknya mementingkan diri sendiri, yaudah bodoh amat orang lain ga peduli yang penting saya menjalankan tujuan saya, kehdiupan saya, akhirnya menjadi sifat yang mementingkan sendiri.
Karena berfokus pada aku, berfokus pada diri, berfokus pada saya, diri yang sedang menghadapi pilihan, diri yang harus mengalami pergolakan batin untuk mengambil jalan yang ditempuh, sampai akhirnya bertemu mungkin dengan persimpangan dan yang dipilih jalan yang pintas untuk mendapatkan dengan apa yang diinginkan.
Karena akhirnya orang pun dalam memilih kadang kadang bukan karena kehendak Tuhan, kadang kadang hanya berdasarkan logika, bahkan kadang kadang karena penasaran.
Lihat orang lain kaya, saya penasaran sih rasanya hidup jadi orang kaya gimana ? akhirnya apa ? ya cari cari cara yang punya kesempatan korupsi ya korupsi, punya kesempatan ke dukun, ya ke dukun yang bikin saya mau ngerasain orang kaya.
Saya ingin menjadi orang orang makmur seperti yang saya lihat di layar layar kaca orang orang yang sepertinya bahagia, karena saya pengen kayak gitu.
Inilah yang kemudian dialami keinginan keinginan itu, yang awal diawali dari diri, dari aku, dari fokus dari aku yang dialami oleh Adam, leluhur kita yang juga jatuh karena godaan bersama dengan Hawa.
Dari bacaan pertama, dikatakan Tuhan menyediakan semua bagi Adam dan Hawa, hanya ada satu buah yang tidak boleh dimakan karena akan membawa akan kematian.
Pohon itu dikenal sebagai pohon pengetahuan yang baik, sekaligus membukakan yang jahat, buah itu sangat menarik hati, sangat menawan hati, ular melihat kesempatan ini dengan segala kecerdikan karena ia adalah iblis dan berkata
“kamu ndak akan mati kok, tapi kamu menjadi tahu seperti Allah, tahu yang baik dan tahu yang jahat,”
Akhirnya mereka pun mulai menjadi penasaran, perempuan itu mulai melihat bahwa pohon itu sepertinya bukan hanya baik dipandang, dan pohon itu dikatakan diminati karena memberi pengertian
“Wuah seandainya saya makan ini, saya akan mendapatkan pengertian, saya bisa lho kayak seperti Allah, Tuhan Allah, saya bisa tahu,”
“Ga papalah coba coba, kan ga mati,” kata ular
Karena penasaran ingin menjadi seperti Tuhan Allah, karena ingin mendapatkan itu tahu katakan bijaksana, mereka ingin mencoba.
Akhirnya mereka pun tidak bisa menahan gejolak dari dirinya, menahan keinginan, menahan hasratnya, dan akhirnya yang terjadi dimakanlah buah itu, dan akhirnya mereka pun jatuh ke dalam dosa untuk pertama kalinya dan menjadi dosa mula mula.
Itu dosa mula mula yang membuat mereka bukan hanya terusir dari Taman Eden, tapi dalam surat Paulus kepada jemaat Roma, mulai dari satu orang atau yang orang yang mula mula tadi.
Dosa itu kemudian juga telah menjadi dikenal sebagai maut, maut yang diturunkan ke semua orang yang akhirnya membuat manusia itu ya dilahirkan sebagai orang yang berdosa.
Manusia akhirnya menjadi manusia yang semakin sulit menghadapi kehidupan ini untuk menahan ke-aku-annya.
Banyak orang yang tahu sudah berdosa tapi ya mengulang lagi dosa yang sama, udah tahu tidak boleh iri tapi masih saja iri karena masih penasaran, kalau saya pengen punya yang mereka punya akhirnya iri terus.
Ada orang yang juga jatuh sama dosa kesombongan, karena penasaran bagaimana sih rasanya jadi orang tertinggi yang akhirnya dipandang orang, akhirnya ndak bisa menahan diri akhirnya berusaha untuk mendapatkan segala sesuatu, dan jatuhnya sebagai kesombongan.
Jadi akhirnya inilah kembali tentang aku, Adam sebagai aku yang mau begitu saja menerima buah yang diberikan Hawa, dan sebagai Hawa sebagai aku yang tidak bisa mengelak dari cobaan dari si iblis tadi.
Atau di dalam kehidupan ya kita menjadi aku aku yang lain, pribadi yang tahu itu salah tapi yang saya kepengin, tahu ini salah tapi ya ndak papa sekali sekali, tahu ini ini salah tapi ya sudah lah ndak apa apa nanti bertobat lagi.
Tapi hari ini kita bersyukur di Minggu PraPaskah I, kita bisa melihat sebuah teladan dari Yesus yang melepas ke-aku-annya, yang dihadapi Yesus adalah bagaimana teladan dia tidak mudah melepas ke-aku-annya, bukan sekedar godaanya yang menggiurkannya tapi Yesus mampu menghadapinya.
Tapi dalam kondisi yang terlemah sekalipun digambarkan, Yesus mampu melepas ke-aku-annya.
Kita bayangkan bagaimana Yesus yang sedang melewati masa 40 hari 40 malam menahan rasa lapar di dalam diri.
Adakah bapak ibu saudara di gereja ini yang ikut puasa PraPaskah 40 hari 40 malam ndak makan dan ndak minum sama sekali, kalau ada yang kuat boleh kita dibagi tipsnya.
Saya yakin tidak ada yang bisa seperti Yesus ya 40 hari 40 malam, jangankan 40 hari, puasa 24 jam saja asam lambung sudah naik, emosi sudah meledak, badan juga rasanya tidak enak, loyo.
Puasa 12 jam saja kadang kadang merasa aduh saya sudah capek, kapan sih saya bisa makan, yang dijalani bukan puasanya tapi menghitung jamnya boleh saya makan, kapan ya saya bisa fit lagi badan..
Di dalam perut yang lapar di tengah kondisi yang betul betul lemah itulah, cobaan iblis itu datang dan disitulah iblis menawarkan dengan berbagai rupa hal yang mencoba menganggu ke-aku-an Yesus
Kita memang tahu Yesus sebagai anak Allah tapi disitu juga Yesus tetap hadir sebagai manusia bukan manusia yang berdosa, tapi manusia dengan berbagai problematika, dengan berbagai permasalahan, berbagai rasa yang dialami.
Yang pertama ketika diminta Yesus jalan pintas untuk sebagai anak Allah, karena engkau anak Allah bilang aja minta ubah batu ini men jadi roti.
Yesus ingat bahwa ini bukan hanya sekedar memulihkan LaparNya, bukan hanya sekedar merubah, kalau merubah kita yakin dan percaya Yesus pun juga pernah melakukan mujizat.
Tetapi ini adalah bukan cara demikian, Yesus menunjukkan bagaimana dia anak Allah, bukan sekedar melalui mujizat yang ditampilkan karena itu bukan jalan yang dikehendaki Allah apalagi yang menyodorkannya iblis.
Jadi Yesus kemudian melepas ke-aku-anNya untuk menjadi sosok Allah yang ditunggu dunia dan menampilkan diri cepat cepat.
Karena Yesus mulai betul betul dikenal karena setelah kebangkitanNya, Dia di kenal sebagai penyelamat, di sini adalah awal awal dalam masa pelayanan sebelum pelayanan bersama murid muridnya.
Yesus ndak mau cepat cepat, masih di awal bukan ini caranya yang Allah kehendaki, jadi Yesus terus berusaha mempertahankan kemurnian di dalam dirinya, bukan mempertahankan egonya, ya pokoknya anak Allah ya harus diketahui dunia.
Iblis tidak tinggal diam, di putaran selanjutnya atau percobaan kedua dia coba lagi, kalau kamu anak Allah jatuhkan dirimu dari atas bait Allah, akan ada malaikat malaikat yang akan menatangnya,
Ini yang menggambar bagaimana yaudah kalau kamu anak Allah pasti akan ada yang menolong atau membantu, tapi sekali lagi Yesus tidak menggunakan itu, walaupun sekalipun itu ia tahu Allah pun juga memaafkan dan dia juga bisa melakukannya.
Tapi Yesus ga akan mau diperlakukan istimewa, perlakuan istimewa sebagai anak Allah karena itu bukan jalan yang ditunjukkan kepadanya, bukan jalan yang harus ditempuhnya.
Pada percobaan ketiga, iblis semakin liar lagi, kalau kamu mau menyembah aku, miliki itu semua, tapi Yesus sekali lagi tidak tergoda dengan kekuasaan yang ditawarkan karena bukan kekuasaan yang ia cari, tugas perutusan Yesus di dunia ini bukan menguasai dunia tapi menawarkan kerajaan Allah untuk boleh menjadi hal yang diikuti oleh dunia yang bahkan sudah dicampuri, dimasuki, disusupi oleh iblis tadi
Jadi menawarkan kerajaan Allah dengan caranYa ketika semua orang mau datang melalui dia, disini kita melihat Yesus tidak begitu saja tertarik dengan apa yang ditawarkan oleh iblis.
Yesus juga tidak begitu saja mau terus bertahan dengan ke-aku-annya yang penting aku anak Allah hadir, yaudalah bersaksi menunjukkan kesaksiannya, tapi Yesus mau setia mengikuti jalan Allah tahap demi tahap dia ikuti bukan sekedar godaan.
Di tahun 2026 kita saat ini memasuki masa PraPaskah nanti di Paskah kita akan memasuki sebuah puncak dalam tema Bangkit Melampaui Realitas.
Saat ini kita melampaui atau melewati realitas kehidupan yang tidak bisa dikehendaki manusia, seperti lagu Bon Jovi tadi ya orang yang selalu mencari kesempatan yang ada, yang penting saya bisa, yang penting saya bertahan, yang penting saya mampu, yang penting saya dikenal.
Kecerdasan dimana mana, kadang kita dituntun untuk bisa cerdas dalam segala hal, tapi kecerdasan apapun tidak bisa mengendalikan segala realitas dalam kehidupan.
Iman yang saleh dengan segala ketaatan kita pun tidak bisa dengan instan begitu saja menghadapi realitas kehidupan ini

Karena itu di dalam tema Paskah nanti kita diajak mau bangkit melihat kebangkitan Kristus yang melampui realitas itu di tengah situasi yang memang seperti ini.
Tapi semua itu ada step by stepnya bapak ibu, kalau boleh melihat di samping kiri nimbar tertulis melepas kemunafikan itu yang di Rabu Abu kemarin, melepas ke-aku-an hari ini
Kemudian melepas segala hasrat diri, dan melepas kemelekatan dahaga, jangan lupa hadiri Minggu berikutnya.
Jadi dari bawah dari diri yang mau melepas, dari diri yang mau betul betul berserah, saya mau meninggalkan sampai akhirnya bisa melampaui.
Kalau kita mau melampui kalau ndak melepas akan ketahan di bawah, tapi ketika kita mau melepaskan akhirnya kita bisa mencapai melampaui apa yang kita alami.
Kegelapan dilampaui yang menjadi pergumulan orang, kehilangan, kemulian atau salib bukan masalah salib pun lebih tinggi
Tapi ya kita melihat kemuliaan dan salib yang melampaui segala realitas di dalam kehidupan ini, di dalam perjalanan kita bersama dengan Tuhan.
Karena itu bapak ibu, biarlah ketika kita memasuki Minggu PraPaskah ini, kita pun boleh diajak di Minggu PraPaskah ini untuk mau kembali melihat diri apakah saya masih mempunya hasrat yang terlalu berlebih di dalam diri, yang penting saya, yang penting saya mampu, yang penting saya bisa, yang penting saya bisa seperti A atau B.
Hari ini kita diajak untuk melepaskan segala keinginan diri kita yang bahkan bisa membuat kita tersesat di jalan yang salah atau dikenal dengan jalan pintas.
Karena kita mengabaikan ketaatan ketaatan bersama dengan Tuhan, sebagaimana Kristus telah juga taat kepada Bapanya, saat ia dicobai kita pun diundang untuk meneladani untuk juga taat.
Melepas ke-aku-an itu dasarnya adalah ketaatan dengan keinginan keinginan yang ada di depan mata, penasaran yang ingin dicoba, bahkan didukung dari diri yang mau pengakuan yang ingin digapai, ada egoisme yang terselubung tapi kita diajak untuk melepas itu semua.
Melihat yang di depan hadapi, ya memang tantangan yang ada ya hadapi dengan kekuataan bersama Tuhan, ada penasaran yang ingin dicoba pertimbangkan dengan nikmat apakah itu baik dan benar.
Kalau ada gejolak untuk pengakuan diri apakah itu benar hanya untuk diri saya atau orang lain
Kalau ada egoism yang akhirnya membuat orang lain merasakan dampaknya kita pun bisa menyadarinya.
Hari ini kita diajak untuk melepaskan ke-aku-an, aku yang terlalu besar ego yang terlalu besar harusnya kita ubah menjadi aku yang kecil.
Melepas ke-aku-an, aku yang kecil ego di dalam diri untuk menggapai aku yaitu Kristus sendiri.
Jadi hari ini melepaskan ke-aku-an dari diri kita keegoisan kita untuk melihat menuju sang aku, Tuhan yang akan memberkati kehidupan kita yang menjanjikan segala perjalanan hidup kita dalam setiap langkah langkah nya asalkan mau kita mau bertahan dalam jalannya bukan bersandar kekuatan sendiri, kekuatan Tuhan saja yang menolong.
Mari kita taat, setia untuk boleh berjalan bersama Tuhan, kalau hari ada segala ego atau aku aku, lihatlah bahwa ini adalah aku yang masih terlalu kecil, tapi ada aku yang lebih besar yang harus kita ikuti.
Kiranya Tuhan menolong kita sekalian, amin… dilanjutkan saat hening dan penampilan Angklung Usinda Immanuel dengan pujian Jadilah Teladan Dunia.
Usai penampilan Angklung Usinda Immanuel dengan pujian Jadilah Teladan Dunia, dilanjutkan dengan umat berdiri sembari mengucapkan Pengakuan Iman berdasarkan Konfesi GKI 2014.
Kemudian Pdt Jeffry Aswin Hartanto menaikkan pokok pokok doa dalam doa syafaat salah satunya mendoakan jemaat yang sakit agar diberikan kesembuhan dan kekuatan, serta gereja dan negara yang selalu berjalan sesuai dengan keinginanMu.
Selanjutnya pengumpulan persembahan dimana nas kitab yang diambil dari 1 Tawarikh 29:14 menyatakan:
“Sebab, siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberi persembahan sukarela seperti ini? Sebab dariMulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.
Ketika kantong persembahan diedarkan, pemusik memainkan pujian berjudul pakailah seluruh hidupmu.
Usai doa persembahan dilanjutkan jemaat menyanyikan doksologi sebelum dilanjutkan pengutusan dan berkat.
Pada saat pengutusan Pdt Jeffry Aswin Hartanto mengatakan,
hadapilah setiap pencobaan dalam ketaatan kepada Tuhan. Kita dipanggil untuk dapat menang di dalam setiap cobaan dan menjalani hidup di dalam ketaatan. Marilah menyerahkan setiap keinginan dan hasrat hati kita supaya hanya Tuhan yang mengisi hidup kita
Dan jemaat pun menyanyikan pujian Ku Ingin Menyerah dalam posisi berdiri untuk bersiap menerima berkat.
Pada saat berkat, Pdt Jeffry Aswin Hartanto menopangkan tangan kepada jemaat seraya berkata.
Kiranya anugerah Allah Bapa meneguhkanmu di tengah segala pencobaan, kasih Yesus Kristus yang telah menang menjadi kekuatan untuk melepaskan ke-aku-anmu, dan persekutuan Roh Kudus menuntunmu untuk hidup seturut kehendak-Nya.

Yang disambut dengan jemaat menyanyikan lagu Hosana Amin, setelah itu pendeta memberikan Alkitab kepada penatua dan turu dari nimbar dan jemaat kembali duduk dan mengambil sikap saat teduh.
Dan para jemaat pun satu persatu meninggalkan ruang ibadah untuk keluar serta bersalaman dengan pendeta dan penatua yang bertugas.
Tidak lupa Angklung Usinda Immanuel pun berphoto bersama dengan pendeta dan penatua GKI Kranggan serta dijamu santap siang sebelum kembali ke GKI Camar dan kediaman masing masing. ***
Leave a Reply